Mengapa Yahudi dan Muslim Memperebutkan Yerusalem?

Advertisement

Masalah ibukota Israel sudah lama menjadi sumber perselisihan. Meskipun semua kedutaan besar asing Israel berada di kota Tel Aviv, negara tersebut tetap menganggap Yerusalem sebagai ibukotanya. Yerusalem, yang merupakan salah satu kota tertua di dunia, telah terbagi secara formal antara Israel dan Palestina selama hampir 70 tahun, namun berpindah tangan berkali-kali selama sejarah lebih dari 5.000 tahun.

Klaim perebutan Israel dan Palestina atas kota tersebut menyebabkan konflik selama puluhan tahun, di mana pemukim Yahudi mendorong orang-orang Arab Muslim keluar dari rumah mereka dan mendirikan negara Israel di tanah mereka pada pertengahan abad ke-20.

Tetapi masalahnya, klaim tersebut juga terkait dengan agama Yahudi dan Islam, yang keduanya mengakui Yerusalem sebagai tempat suci.


Pada tanggal 6 Desember, Presiden Donald Trump memutuskan kebijakan luar negeri dan mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, yang secara efektif mendukung kontrol Israel atas kota tersebut.

Yahudi, Kristen, dan Islam sangat terkait dengan kota kuno ini, dan para pengikut masing-masing agama ini telah menguasai seluruh atau sebagian kota selama beberapa ribu tahun terakhir. Dalam 1.000 SM, Raja Daud mendirikan kontrol Yahudi atas Yerusalem. Kota ini kemudian sering berpindah tangan selama beberapa milenium berikutnya, terutama selama perang salib, ketika tentara salib Kristen berjuang bersaing dengan para Muslim untuk menguasai kota. Kemudian antara tahun 1517 dan 1917, Kekaisaran Ottoman yang agama resminya adalah Islam memerintah kota ini.

Yerusalem menonjol dalam Alkitab Ibrani. Dalam tradisi Yahudi, ini adalah tempat di mana Ibrahim, bapak atau pendiri Yahudi pertama, hampir mengorbankan anaknya Ishak kepada Tuhan ribuan tahun yang lalu. Kemudian, cucu Ibrahim, Yakub (yang mengambil nama "Israel") mengetahui bahwa Yerusalem adalah "tempat yang akan dipilih Tuhan, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu." menurut Kitab Ulangan.

Yerusalem adalah ibu kota Raja Daud Israel dalam Alkitab Ibrani, serta kota di mana anak Daud, Sulaiman, membangun kuilnya.

Menurut Al-Quran, Yerusalem juga merupakan tempat terakhir yang dikunjungi Nabi Muhammad sebelum dia naik ke langit (Isra Mi'raj) dan berbicara kepada Tuhan di abad ketujuh. Sebelum itu, dia diterbangkan dari Mekah ke Yerusalem dalam suatu malam oleh makhluk yang bernama Buraq.

Perjalanan malam ajaib dan komunikasinya dengan Tuhan ini adalah peristiwa penting dalam Islam. Selama perjalanan malam, Muhammad disucikan untuk persiapan pertemuannya dengan Tuhan. Begitu di surga, Tuhan mengatakan kepada Muhammad bahwa dia harus menjalankan salat, 50 kali setiap hari. Namun, Muhammad memohon kepada Tuhan untuk mengurangi jumlahnya menjadi lima kali sehari, seperti yang dilakukan saat ini.

Muhammad melihat misinya sebagai perpanjangan dari tradisi Abrahamik, Yahudi dan Kristen. Oleh karena itu, kiblat pertama, atau arah di mana umat Islam harus sholat adalah Yerusalem (sekarang Mekah). Selain itu, tradisi Islam memprediksi bahwa Yerusalem akan memainkan peran penting di masa depan, menamainya sebagai salah satu kota di mana awal akhir dunia akan terjadi disini.

Sumber: History

Sekilas tentang penulis : Wilde

Hai saya Wilde, salah satu penulis di Mesinwaktu.id. Semoga dengan diterbitkannya tulisan saya ini dapat menjadi informasi yang berguna dan bermanfaat bagi Anda. Salam!