Apa Maksud "Agama Adalah Candu" Dari Pernyataan Karl Marx?

Advertisement

Apa maksud "agama adalah candu" dari pernyataan Karl Marx?

Die Religion … ist das Opium des Volkes’ awalnya tercantum pada pembukaan tulisan Marx: A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, yang ditulis oleh Marx pada tahun 1843 dan terbit pada tahun 1844 di Paris dalam jurnal Deutsch–Französische Jahrbücher, yang dieditori oleh Marx dan Moses Hess.

Adalah hal yang kurang tepat untuk mengatakan bahwa Marx adalah seorang pemikir yang anti agama, karena ia telah banyak menulis topik tentang agama di awal karirnya sebagai penulis dan jurnalis, walaupun secara pribadi ia tidak memiliki komitmen dengan satu agama apapun.

Maksud Marx mengemukakan pernyataan tersebut adalah karena dia menemukan adanya hubungan ‘kotor’ antara gereja dengan pemegang kekuasaan yang terjadi di ranah agama dan politik Eropa pada abad 19. Marx sadar dan geram dengan kenyataan bahwa kaum elit penguasa itu menggunakan agama untuk memobilisasi rakyat untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri.

Namun, apa sikap kita bila agama justru menjadi alat penguasa untuk menancapkan kekuasaannya?

Sejarah membuktikan bahwa agama itu dekat dengan kekuasaan. Kekuasaan akan semakin kokoh apabila penguasa bekerja sama dengan petinggi-petinggi agama. Hubungan timbal balik pun didapatkan oleh petinggi-petinggi agama. Mereka juga menikmati kekayaan yang diberikan oleh penguasa asalkan para petinggi ini tetap setia kepada penguasa. Sementara itu, rakyat hanya menjadi korban politis dari penguasa. Masyarakat menjadi zombie yang bisa digerakkan dengan ilusi.


Karl Marx tentu mengkaji mengenai hal ini dengan cukup teliti. Kondisi yang terus berulang hingga saat Karl Marx masih hidup, bahkan sampai sekarang, membuat Marx sadar bahwa agama justru dijadikan sebagai alat penguasa demi menindas rakyat kecil. Pengembaraan Karl Marx dari Prusia (Jerman) ke Inggris pun menambah keyakinan Marx mengenai hal ini. Kekaisaran Prusia begitu dengan petinggi agama Protestan dan Raja Britania begitu dekat petinggi Agama Anglikan. Belum lagi, perang juga sering berkecamuk di dataran Eropa. Naiknya nama Napoleon saat itu membuat beberapa negara di Eropa menjadi takut. Untuk memaksimalkan kekuatan militer, propaganda agama dilakukan demi mengumpulkan banyak tentara. Imperialisme dari Kerajaan Inggris juga memaksa Kerajaan untuk menggunakan politik agama demi mendapatkan anggota militer yang siap tempur di daerah jajahan.

Bukan hanya untuk mendapatkan tentara saja, agama dijadikan sarana untuk terus membodohi para buruh. Kondisi buruh pada saat itu cukup mengerikan. Mulai dari upah yang sangat kecil, jaminan keselamatan kerja yang tidak jelas, dan jam kerja yang tidak logis adalah masalah buruh pada saat itu (dan mungkin sampai sekarang di beberapa tempat). Buruh terus dibodohi dengan ilusi “banyak berdoa supaya masalah selesai”. Petinggi gereja juga menyarankan buruh untuk tetap sabar untuk menghadapi masalah dalam pekerjaan. Hal inilah yang membuat Marx semakin yakin bahwa hal seperti ini tidak boleh diteruskan. Buruh harus segera melawan penindasan. Buruh harus melepaskan ilusi agama untuk melawan kesewenang-wenangan para pemilik modal. Marx menganggap bahwa agama harus dipisahkan dari ranah politik karena agama adalah alat yang rentan untuk membodohi masyarakat demi mencapai kekuasaan dan alat untuk menindas. Namun, bukan berarti agama tidak boleh dijadikan alat untuk melawan penindasan.

Oleh karena itu Dari tulisannya, Marx sebenarnya percaya bahwa agama memiliki fungsi tertentu dalam masyarakat yang mirip dengan fungsi opium terhadap orang sakit atau cedera. Ia mengurangi rasa sakit dan memberi ilusi yang menyenangkan kepada si sakit. Di sisi lain, agama, seperti opium, juga mengurangi energi dan keinginan mereka untuk melawan realitas yang opresif, tak punya hati, dan tak punya jiwa yang telah dipaksakan kapitalisme kepada mereka. Sebuah obat penindasan agar tidak memberontak kepada yang menindas.

Pelajaran hari ini, ambil kata-kata dan pemikiran yang benar dari Marx tapi jangan ambil paham "kiri" nya, apalagi paham komunis ala Uni Soviet.

Marxisme-Leninisme adalah versi asli Sosialisme yang sebenarnya baik. Bung Karno, Ho Chi Minh, Kim Il Sung, Nehru, Tito, Castro, dan Gadaffi meniru mereka.

Sebenarnya karena orang seperti Stalin, Mao Zedong, Pol Pot, Hoxha dan Kim Jong Il Sosialisme nantinya dianggap jelek, dan mereka lah yang menyalahgunakan Komunisme demi kepentingan sendiri itu.

Ingat murid bisa salah persepsi dari guru. Marx tidak mengajarkan apalagi memerintahkan untuk membentuk negara Komunis, hanya mengutarakan suatu pendapat, tetapi penerusnya seperti Stalin yang salah persepsi soal Komunisme sampai mau merusak agama dan menjadikan Komunisme sebagai Kapitalisme gaya baru.

Sumber

Sekilas tentang penulis : Wilde

Hai saya Wilde, salah satu penulis di Mesinwaktu.id. Semoga dengan diterbitkannya tulisan saya ini dapat menjadi informasi yang berguna dan bermanfaat bagi Anda. Salam!